PERSAHABATAN SEJATI

Pada pagi hari, TINA sedang bermain masak-masakan di depan rumah.Saat sedang asyiknya, ada ANJING besar mendorong badan TINA, hingga tersungkur ke mainannya.TINA kaget dan teriak minta tolong.Namun teriakan TINA tidak terdengar oleh siapapun .ANJING itu terus mengacak-acak mainan TINA.TINA menangis dan menutup mukanya dengan kedua tangannya.Beberapa menit TINA menangis, ia membuka matanya dan kaget, bahwa di depan TINA ada seekor MONYET yang sedang membetulkan mainan TINA.TINA duduk sekitar 3 meter dari MONYET .MONYET asyik memainkan ekornya, dan TINA bengong sambil memegang bajunya .Tak lama kemudian ANJING menyalak dari jarak 5 meter. MONYET kaget dan terjungkal ke arah belakang. Sedangkan TINA tetap duduk mematung. Selama ANJING mengonggong, MONYET tetap dalam keadaan jatuh dan tak bergerak.Melihat keadaan demikian, TINA langsung berpikir dalam hati.Mau menolong atau tidak, bahkan sempat berpikir mau lari dari tempat tersebut.TINA ingat, bahwa ia pernah ditolong oleh MONYET.Tergeraklah hati TINA untuk segera melangkah dan menuju ke tempat MONYET yang jatuh.Tapi apa yang membuat TINA heran MONYET tersebut memberi isyarat kepada TINA.Dengan jari tangannya, MONYET itu meletakkan jarinya pada mulutnya.Seperti layaknya orang yang menyuruh diam.TINA sedikit bingung, tapi akhirnya tahu maksud dari MONYET tersebut.
Tak lama kemudian ANJING berhenti menggonggong dan dengan cepat lari pergi. MONYET membuka matanya dan melirik pada TINA.TINA semakain heran, kenapa MONYET itu bisa bertingkah seperti manusia.TINA akhirnya mengulurkan tangannya agar MONYET itu bangun dari posisi jatuh.Dengan semangat MONYET menyambut tangan TINA dan bangunlah MONYET itu. Setelah MONYET bangun, TINA melangkah dua langkah ke belakang.Seakan merasa ketakutan pada MONYET.Namun MONYET berkata,” Jangan takut temanku!” Jantung TINA berdebar cepat. Bertanya seribu Tanya, “ Kenapa MONYET bisa berbicara?” “ Apa saya ini dalam dunia dongeng?”Dengan mulai tenang TINA membereskan mainannya dan dimasukkan ke dalam keranjang.Dengan cepat pula, MONYET lari mendekat dan membantu membereskan bersama TINA.TINA dengan malu sambil senyum dan menoleh pada MONYET.MONYET juga memberikan respon yaitu dengan loncat-loncat sambil memainkan ekornya.TINA semakin senang dan tertawa lebar disampaikan pada MONYET. Setelah MONYET meloncat-loncat, MONYET tiba-tiba menunduk dan diam. TINa dengan cepat diam pula. TINA ragu-ragu untuk memegang tangan MONYET. Tapi TINA memberanikan diri bertanya, “ Kenapa kok kamu diam dan kelihatan sedih?”. “ Ada apa, saya mau membantu kamu, kalau ada kesulitan atau kesedihan?”, Tanya TINA. MONYET semakin sedih dan meneteskan air mata. Semakin bingunglah TINA, karena MONYET kok bisa menangis. Akhirnya TINA bertanya sekali lagi, “ Ada apa kamu, MONYET.” “Aku siap membantumu.” Monyet akhirnya menjawab, “ Tolong saya, anak saya terjerumus ke jurang!” Dengan cepat MONYET berlari sambil mengandeng tangan TINA menuju ke hutan.Banyak rintangan yang dialami oleh kedua sahabat itu, namun mereka dapat mengatasinya.Kira-kira satu jam lamanya, kedua sahabat tersebut sampailah ke jurang . Jurang itu sangat dalam.MONYET menunjukkan arah tempat anaknya jatuh. TINA melihat ke dalam jurang, dan TINA mendengar rintihan minta tolong.TINa bersama MONYET mencari akar pohon dan menyambungnya. Setelah akar itu panjang, maka akar tersebut dijulurkan ke dalam jurang.” Anakku, tolong pegang akar itu, dan siap untuk saya tarik ke atas, peganglah dengan kuat!” teriak MONYET.Dengan sekuat tenaga TINA dan MONYET mulai menarik akar itu. Tak lama kemudian anak MONYET tersebut sampai di atas dan sambil menangis anak MONYET langsung memeluk ibunya.TINA hanya diam dan haru. “ Nak, kenalkan TINA ini yang telah itu menolong kita.”
Hari semakin gelap, maka TINA dan MONYET itu segera meninggalkan jurang dan menuju kea rah sebuah desa. Desa itu terletak di tengah-tengah hutan.Desa tersebut dihuni kira-kira 15 orang.Di desa itulah TINA tinggal bersama keluarga ayah, ibu dan adiknya.Mereka sangat bahagia. TINA orang yang tegas dan disiplin, sedangkan ibunya orang yang lembut dan penyayang keluarga. Setelah berjalan kira-kira 1 jam, mereka akhirnya sampai di pinggiran desa.Sampailah TINA dan kedua monyet itu di depan rumah. Ayah dan ibu telah menunggu di depan rumah.TINA diselimuti rasa takut dan senang. Apakah ayah dan ibu akan marah? Atau akan senang? Kedua hal tersebut bergelut dalam hati dan pikiran TINA. TINA memberanikan diri dan akhirnya TINA menyapa ayah dan ibu. “ Selamat malam ayah, ibu.” “ Malam !” Dengan nada jawaban dari ayah TINA, kedua monyet itu tidak bergerak dari tempat berdiri. “ Kamu dari mana dan sama siapa? “ “ TINA dari jurang yang ada di dalam utan, yah.”, jawab TINA. Ayah TINA marah dan segera menyuruh TINA masuk rumah. Setelah TINA duduk di dalam rumah, TINA cerita kepada ayah dan ibu, bahwa TINA mau menolong anak MONYET yang sedang luka.TINA meminta, agar ayah dan ibu mau mengajak kedua monyet itu ke dalam rum mengijinkan, tapi dengan syarat kedua monyet tersebut tidak boleh tidur di atas tempat tidur. Dan ayah berjanji, besok akan bautkan kamar sendiri untuk kedua monyet tersebut. Mendengar ayah berbicara , TINA langsung memeluk ayah dan langsung minta ijin mengajak kedua monyet masuk ke dalam rumah. TINA bergegas keluar rumah. TINA berteriak memangil MONYET tersebut. TINA kaget, karena kedua monyet tersebut tidak ada di depan rumah. Ia hanya menemukan selembar daun yang ada bercak-bercah darah. TINA menangis dan dengan menunduk berjalan menuju rumah. Di dalam rumah, ibu telah menyiapkan makanan dan minuman untuk kedua monyet itu, dan ayah telah menyiapkan tempat tidur dari kayu. “ Kenapa kamu, TINA?”, Tanya ayah. “ Dia telah pergi, yah! “, jawab TINA. Ayah dan ibu memeluk TINA, dan member saran, “ Tidak apa-apa, besok kita cari, mungkin mereka bisa juga akan kembali mencari kamu. “ “ TIN, sudah malam, yuk kita istirahat, tapi kamu mandi dulu, ya.”, kata ayah.
Induk MONYET dan anaknya dengan sedih meninggalkan halaman rumah TINA. Walaupun dalam kegelapan malam, mereka tetap berniat untuk pergi. Dengan mengendong anaknya Si Monyet berjalan sambil berpikir, mau kemana? Di tengah perjalanan, Si MONYET kecil berkata, “ Saya lapar. “ MONYET berhenti dan menurunkan anaknya di batu. “ Kamu tunggu di sini , ya, saya mau cari pisang di kebun itu. “ MONYET akhirnya meninggalkan anaknya untuk pergi mencari pisang. Setelah sampai kebun pisang, MONYET segera mencari buah pisang yang sudah matang. Dan dapatlah buah pisang yang matang. Diambilnya pisang tersebut dengan rasa senang bercampur haru. Segera MONYET lari menuju tempat meninggalkan ananya. MONYET terkejut, karena anaknya tidak ada di tempat. MONYET memanggil dan mencari di sekitar batu tersebut. Dengan rasa sedih monyet membuang pisang yang baru saja di dapatkan. Ia berputar-putar mencari anaknya. Namun sia-sia yang dilakukan MONYET. Sampai pagi hari anknya tidak didapatkan. Ia lalu pergi dan hanya berharap, agar anaknya tidak mengalami kesusahan. Tak lama ia duduk merenung, matahri sudah mulai memancarkan sinarnya, dan segera pergi ke dalam hutan.
Seekor beruang madu kira-kira berumur 5 tahun menghampiri aank monyet dan menggendongnya untuk di bawa ke gua. Gua tempat beruang tinggal. Si MOnyet kecil tidak menangis dan tidak takut. BERUANG meletakkan Si MOnyet kecil di atas batuan yang dilapisi dengan jerami dan dedaunan kering. Bagi BERUANG taempat itu cukup bisa membuat hangat tubuhnya. BERUANG pergi meninggalkan Si MOnyet Kecil untuk mencari madu yang akan digunakan untuk mengobati luka pada kaki Si Monyet Kecil. Tidak lama kemudian BERUANG sudah pulang dengan membawa sebuah madu. Madu tersebut di teteskan pada luka dan ditutup dengan daun kering. BERUANG juga menyuapi Si Monyet Kecil dengan buah pisang yang diolesi dengan madu. Setelah makan, Si MOnyet Kecil tidur dengan pulas. BERUANG dengan sabar menunggu dan memandangi muka Si Monyet Kecil. Cukup lama BERUANG memandanginya dan BERUANG meneteskan alr mata sambil memegang kepala Si MOnyet Kecil. Ia teringat pada anaknya yang pada saat itu telah mati jatuh ke jurang. Dan nyawanya tidak tertolong lagi. Ia berpikir, “ Andaikata anakku masih hidup, mungkin besarnya seperti Monyet ini. “ Maka untuk mengobati kesedihan, ia akan membesarkan Si MOnyet Kecil ini dengN penuh kasih sayang seperti membesarkan anaknya sendiri. Setelah lama tertidur, Si Monyet bangun dan ia memegang lukanya. Namun BERUANG melarang untuk bangun, karena kondisi kesehatannya masih kelihatan lelah. Hari demi hari kesehatan dan luka pada Si MOnyet Kecil sudah baik, maka mereka berdua bercanda sambil mencari madu untuk makanan setiap hari. Kadang BERUANG mencarikan buah pisang, kadang buah papaya. Begitu bahagian kehidupan mereka berdua. Setelah berjalan kira-kira dua tahun. Si MOnyet Kecil sudah besar. Dan suatu saat, ia mau pergi mau mencari ibunya. Ia teringat bahwa ibunya meninggalkan saat masih kecil di suatu tempat. Ia menangis jika mengingat peristiwa tersebut. BERUANG marah jika MOnyet mau pergi, berarti ia akan sendiri lagi, karena Si Monyet sudah dianggap sebagai anaknya sendiri. Pada malam hari ketika mereka sedang tidur, Si Monyet diam-diam bangun dan dengan pelan keluar gua. Di depan gua Si Monyet memandangi BERUANG, walau bagaimana juga ia telah mmbesarkan saya. Tapi ia tetap berniat pergi untuk mencari ibunya. Dalam kegelapan, ia lari untuk menuju tempat yang saat itu ibunya meninggalkan. Perjalanan Si Monyet sangat melelahkan karena jauh. tetapi tetap dijalani. Tidak terasa malam bergulir begitu cepat. Matahari sudah mulai menempakkan sinarnya. Dan akhirnya Si Monyet menuju ke sungai untuk minum. Bersambung .…………

Tentang petrussupriyanatarki

Saya adalah seorang guru, yang sangat mencintai seni.Saya pernah kuliah di IKIP Yogya jurusan seni, beberapa kali menjuarai kejuaraan dalam bidang seni. Saya juga suka menulis puisi.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s